Integritas dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti “mutu,
sifat, atau keadaan yg menunjukkan kesatuan yg utuh sehingga memiliki potensi
dan kemampuan yg memancarkan kewibawaan; kejujuran.” Kesatuan dalam hal ini
berarti adanya konsistensi antara apa yang kita katakan dengan apa yang kita
perbuat. Integritas terlihat sepele, namun menurut buku “Mengembangkan
Kepemimpinan di Dalam Diri Anda” karangan John C. Maxwell, integritas adalah
faktor kepemimpinan yang paling penting. Hal ini terbukti dari bobroknya bangsa
Indonesia pada masa orde baru karena kurangnya integritas yang berujung pada
KKN meskipun pemimpinnya cakap dalam berpolitik dan bernegara.
Pada kehidupan
sehari-hari pun, kita sering menemukan para pemimpin dan politisi yang memiliki
integritas rendah, contohnya adalah menjanjikan sesuatu, namun di lapangan yang
dikerjakannya berbeda. Kurangnya integritas inilah yang juga menyebabkan
penumpasan korupsi di Indonesia berlangsung cukup lama. Kita sering mendengar
Bupati / Gubernur mengatakan akan bekerja jujur dan tidak melakukan KKN, namun
pada kenyataannya beliau melakukannya juga, maka yang terjadi adalah para
bawahannya akan mengikuti jejak pemimpinnya yang KKN tersebut. Hal ini terlihat
dari integritas para bawahannya yang menjadi rendah dan melakukan KKN dalam
skala yang lebih kecil seperti nilep barang kantor, pulang lebih awal, sampai
memanipulasi anggaran dan surat dinas. Dari studi kasus tersebut dapat diambil
kesimpulan jika seorang pemimpin tidak memiliki integritas maka suatu organisasi akan gagal.
Menurut buku “Mengembangkan Kepemimpinan di Dalam Diri
Anda”, integritas bukanlah apa yang kita lakukan melainkan lebih banyak siapa
diri kita. Siapa diri kita ini bisa terus menerus diperbaiki, baik dengan menetapkan nilai-nilai dan
norma-norma yang sesuai bagi diri kita
sendiri. Dan pada akhirnya siapa diri kita akan menentukan apa yang kita
lakukan.
Ketika kita menganut suatu nilai misalnya kejujuran maka
kita akan memilih untuk tetap jujur pada waktu ujian ketimbang mencoba
untuk bertanya kepada teman. Perbuatan
jujur ini akan membawa keuntungan bagi diri kita sendiri keuntungan pertama
adalah kita merasa puas dengan hasil ujian yang kita kerjakan, dan keuntungan
kedua adalah teman-teman yang lain akan percaya kepada kita. Kepercayaan
merupakan harga yang sangat mahal dan hal inilah yang membuat seseorang menjadi
seorang pemimpin.
Hal yang sulit dalam integritas kepemimpinan adalah ketika
terjadi perbedaan nilai, norma ataupun kepentingan. Masalah ini sering terjadi
pada seorang mahasiswa yang menganut nilai kejujuran dan setia kawan. Tentunya
kedua nilai ini akan bertentangan ketika melihat ada teman yang tidak bisa
mengerjakan ujian dan mahasiswa tersebut merasa tergerak untuk membantu dengan
alasan kesetiaan, namun takut membantu dengan alasan kejujuran. Pada kasus ini
tentunya kita harus bisa memilah kapan menggunakan suatu nilai / norma dan
kapan tidak menggunakannya. Kesetian kawan tentunya tidak dilihat pada saat
ujian saja, melainkan dalam bersosialisasi sehari-hari dan pada saat ujian
merupakan momentum paling tepat untuk menguji kejujuran kita
Akhir kata penulis
berharap kita semua dapat menjadi pemimpin yang memiliki integritas yang
tinggi. Jika kita bisa menjadi pemimpin dalam lingkup yang kecil misalnya diri
kita, maka kita akan bisa menjadi pemimpin dalam lingkup yang lebih besar
seperti suatu organisasi kemahasiswaan. Jika seseorang tidak bisa memimpin hal
kecil, maka orang tersebut tidak akan bisa memimpian hal yang besar.
Sebagian besar kita ingin jadi pemimpin, dan ini wajar.
Tapi, dalam memimpin, satu hal penting ditekankan adalah kepemimpinan tidak
hanya menyangkut organisasi, namun dimulai dari lingkup yang terkecil yaitu
diri kita sendiri. Kepemimpinan dalam diri sendiri dapat dilatih dengan
memiliki integritas yang tinggi.
Integritas dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti “mutu,
sifat, atau keadaan yg menunjukkan kesatuan yg utuh sehingga memiliki potensi
dan kemampuan yg memancarkan kewibawaan; kejujuran.” Kesatuan dalam hal ini
berarti adanya konsistensi antara apa yang kita katakan dengan apa yang kita
perbuat. Integritas terlihat sepele, namun menurut buku “Mengembangkan
Kepemimpinan di Dalam Diri Anda” karangan John C. Maxwell, integritas adalah
faktor kepemimpinan yang paling penting. Hal ini terbukti dari bobroknya bangsa
Indonesia pada masa orde baru karena kurangnya integritas yang berujung pada
KKN meskipun pemimpinnya cakap dalam berpolitik dan bernegara.
Pada kehidupan sehari-hari pun, kita sering menemukan para
pemimpin dan politisi yang memiliki integritas rendah, contohnya adalah
menjanjikan sesuatu, namun di lapangan yang dikerjakannya berbeda. Kurangnya
integritas inilah yang juga menyebabkan penumpasan korupsi di Indonesia
berlangsung cukup lama. Kita sering mendengar Bupati / Gubernur mengatakan akan
bekerja jujur dan tidak melakukan KKN, namun pada kenyataannya beliau
melakukannya juga, maka yang terjadi adalah para bawahannya akan mengikuti jejak
pemimpinnya yang KKN tersebut. Hal ini terlihat dari integritas para bawahannya
yang menjadi rendah dan melakukan KKN dalam skala yang lebih kecil seperti
nilep barang kantor, pulang lebih awal, sampai memanipulasi anggaran dan surat
dinas. Dari studi kasus tersebut dapat diambil kesimpulan jika seorang pemimpin
tidak memiliki integritas maka suatu
organisasi akan gagal.
Menurut buku “Mengembangkan Kepemimpinan di Dalam Diri
Anda”, integritas bukanlah apa yang kita lakukan melainkan lebih banyak siapa
diri kita. Siapa diri kita ini bisa terus menerus diperbaiki, baik dengan menetapkan nilai-nilai dan
norma-norma yang sesuai bagi diri kita
sendiri. Dan pada akhirnya siapa diri kita akan menentukan apa yang kita
lakukan.
Ketika kita menganut suatu nilai misalnya kejujuran maka
kita akan memilih untuk tetap jujur pada waktu ujian ketimbang mencoba
untuk bertanya kepada teman. Perbuatan
jujur ini akan membawa keuntungan bagi diri kita sendiri keuntungan pertama
adalah kita merasa puas dengan hasil ujian yang kita kerjakan, dan keuntungan
kedua adalah teman-teman yang lain akan percaya kepada kita. Kepercayaan
merupakan harga yang sangat mahal dan hal inilah yang membuat seseorang menjadi
seorang pemimpin.
Hal yang sulit dalam integritas kepemimpinan adalah ketika
terjadi perbedaan nilai, norma ataupun kepentingan. Masalah ini sering terjadi
pada seorang mahasiswa yang menganut nilai kejujuran dan setia kawan. Tentunya
kedua nilai ini akan bertentangan ketika melihat ada teman yang tidak bisa
mengerjakan ujian dan mahasiswa tersebut merasa tergerak untuk membantu dengan
alasan kesetiaan, namun takut membantu dengan alasan kejujuran. Pada kasus ini
tentunya kita harus bisa memilah kapan menggunakan suatu nilai / norma dan
kapan tidak menggunakannya. Kesetian kawan tentunya tidak dilihat pada saat
ujian saja, melainkan dalam bersosialisasi sehari-hari dan pada saat ujian
merupakan momentum paling tepat untuk menguji kejujuran kita
Akhir kata penulis berharap kita semua dapat menjadi
pemimpin yang memiliki integritas yang tinggi. Jika kita bisa menjadi pemimpin
dalam lingkup yang kecil misalnya diri kita, maka kita akan bisa menjadi
pemimpin dalam lingkup yang lebih besar seperti suatu organisasi kemahasiswaan.
Jika seseorang tidak bisa memimpin hal kecil, maka orang tersebut tidak akan
bisa memimpian hal yang besar.
Sumber: ITB
0 comments:
Post a Comment